OPINI | Bangsa
Indonesia adalah bangsa yang besar dan terdapat sejarah yang panjang
dalam kemerdekaannya. Penjajahan kolonial Belanda yang kian lama
menunjukkan salah satu sejarah yang harus kita ingat. Bukan hanya
penjajahan kolonial, paska kemerdekaan, sejarah panjang Indonesia pun
masih teramat banyak. Mulai dari dilengserkannya Soekarna, Presiden
pertama Republik Indonesia ini hingga terjadi sejarah tragis yang
menggugurkan beberapa tokoh bangsa dalam lubang buaya. Gerakan 30
September oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) menambah panjang sejarah
Indonesia.
Tak berhenti disitu saja,
tahun 1998, krisis terjadi di Indonesia hingga menyebabkan aksi
besar-besaran dari kalangan mahasiswa yang mengakibatkan lengsernya
Soeharto, Presiden ke-2 Indonesia. Lengsernya Soeharto tak menjadi
solusi yang tepat untuk peradaban bangsa Indonesia. Memasuki era
reformasi, kian terjadi ketimpangan - ketimpangan dalam pemerintahan.
Gus Dur, presiden selanjutnya juga menjadi sejarah, beliau hanya mampu
memimpin 2 tahun di negara ini. Ada apa dengan Indonesia?.
Pergantian
Gus Dur ke Megawati, putri Bung Karno sebagai presiden ke-5 negara ini
mengharapkan Indonesia mampu menjadi negara kuat, namun kenyataannya
berpaling. Timor-Timur, salah satu wilayah bagian Indonesia terjual dan
hingga sekarang menjadi negara sendiri. Kembali lagi pertanyaan muncul,
ada apa dengan Indonesia?.
Perjalanan
panjang negara dan bangsa ini kian lama. Dikatakan merdeka namun
kenyataannya, perjalanan pahit selalu melanda dan menghantui negara dan
bangsa ini. Memasuki pemerintahan SBY, SBY tak mampu memerdekakan
Indonesia secara utuh. Problem-problem kebangsaan terus melanda bangsa
dan negara. 10 tahun SBY memimpin, Indonesia tetap menjadi negara
konsumtif dan pengimpor terbesar. Ironisnya, Indonesia sebenarnya kaya
akan kekayaan alamnya, namun kenapa Indonesia menjadi negara pengimpor?
Lagi-lagi pertanyaan muncul.
Memasuki
presiden baru 2014, Jokowi terpilih sebagai Presiden RI ke-7. Namun
problem kian panjang dan mengukir sejarah kelam di 73 Tahun Indonesia
merdeka. Ketimpangan - ketimpangan sosial semakin menjadi-jadi. Yang
kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin. Produk asing semakin
merajalela dan menguasai pasar Indonesia sehingga menyebabkan rakyat
miskin tertindas karena pasar modal yang sangat menguntungkan pemodal
asing. Bagaimana tidak, 73 tahun Indonesia merdeka, masyarakat Indonesia
tetap saja menjadi masyarakat yang konsumtif dalam kekayaan kekayaan
alam yang melimpah.
Toko-toko kecil
terabaikan dengan banyaknya Indomart/Alfamart dan produk-produk asing
yang merajai di negeri ini. Anehnya, ketika putra bangsa berkarya,
negara ini kembali si pertanyakan oleh beberapa kaum yang ingin
memerdekakan rakyat dari kesengsaraan. Ketika putra bangsa melahirkan
produk-produk asli Indonesia, pemerintah justru tak mendukung dan
mensupport karya anak bangsa. Yang akhirnya menyebabkan usaha-usaha
untuk menjadi rakyat produktif terabaikan. Lagi-lagi pertanyaan muncul,
kenapa Indonesia ini? Apalagi yang terjadi?.
Wahai
kawan, rakyat Indonesia yang cinta tanah air, sejarah panjang telah
terukir dalam perjalanan bangsa kita. Namun, sejarah itu bukanlah
sejarah yang indah. Tetapi itu adalah sejarah kelam yang terus
menghantui bangsa dan negara ini. Ingatlah kawan, peran kita bukanlah
hanya sebagai seorang yang sami'na wa atho'na kepada pimpinan. Tetapi
sebagai masyarakat yang merdeka secara utuh, kita wajib berperang
melawan penjajahan tersembunyi yang menghantui bangsa dan negara ini.
Perang kita bukan berarti sama dengan masa penjajahan kolonial, tetapi
perang kita adalah membangun SDM yang bangsa dan membukakan hati nurani
pejabat bangsa untuk tidak terbawa arus penjajahan Millenial ini. Dan
memerdekakan rakyat untuk kesejahteraan bersama.
Bojonegoro, 1 Oktober 2018
Kesaktian Pancasila untuk Kemerdekaan Haqiqi.

0 Comments